Cerita Horor
Jam dinding tua berdenting “Ting..
tingg.. tingg” menandakan bahwa tengah malam telah tiba. Seorang gadis remaja masih
asik duduk diatas sofa ditengah ruang keluarga. Tania, nama gadis itu. Diatas
kedua pahanya ia memangku sebuah laptop berwarna putih. Jari jemarinya fokus memainkan
setiap huruf-huruf yang bertengger di keyboard laptopnya, dengan ritme
membisingkan. Telinganya tak acuh dengan dentingan jam yang beberapa kali
mengingatkannya, bahkan kedua mata itu pun seolah tak mau beralih dari rayuan
tugas yang menumpuk.
“Masih belum tidur Nak?” ujar
seseorang dari arah belakang.
“Belum mah, masih belum selesai.
Sedikit lagi, nanggung” Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kearah sumber suara
tersebut.
“Nanti matiin lampu ditengah
ruangan itu” perintahnya.
Suhu dingin mulai terasa,
menyelimuti tubuh Tania yang hanya mengenakan sweater rajut yang tipis. “Iya
mah” jawabnya singkat.
Suasana kembali hening, hanya ada
suara dari paduan ketikan jari-jari pada keyboard laptop dan deruan nafas Tania
yang teratur. Ia mempercepat gerakan ketikannya, karena besok ia juga harus
bekerja lebih ekstra dan pastinya membutuhkan tenaga yang cukup. Ia tahu bahwa
ia harus segera beristirahat.
“Selesai!” Ujarnya. Lalu menutup
layar laptop, ia melangkahkan kaki menuju ruang
tengah untuk mematikan lampu.
Selesai itu ia kemudian berbalik
badan, tiba-tiba angin yang entah darimana datangnya berhembus sangat kencang.
Tubuhnya seolah mengigil beberapa saat. Ia mencoba mencari sumber angin itu. Bulu
kuduknya seketika berdiri tegak.
“Anginnya darimana sih? Apa ada
jendela yang kebuka?” tanyanya pada diri sendiri. Kakinya melangkah pada setiap
praduga yang terlintas, matanya sangat teliti mencari setiap keberadaan
jendela, mencari apakah ada yang terbuka. Ia perhatikan setiap sudut dan letak
semua jendela yang berada dirumahnya, sedikitpun tidak ada jendela yang terbuka
atau tirainya bergerak karena hembusan angin.
“Semua jendela tutup, tapi angin
tadi masuk dari mana?” ujar Tania.
Sesuatu membuatnya terkejut, “Tania,
belum tidur?” Ibunya muncul dari belakang Tania yang sedang fokus memikirkan tentang
angin.
“Mamah, ngagetin aja. Ini mau tidur
mah” Ia mengelus dadanya dan melihat kearah wanita yang sekarang sedang berdiri
didepannya.
“cepet tidur” kata wanita itu singkat.
Ia membalas menatap Tania lekat.
“Mamah kan nyuruh aku matiin lampu
diruang tengah” Ucap Tania.
“Kapan?” Ucap Ibunya bertanya.
Tania menatap wajah wanita itu,
“Tadi,” mata Tania keheranan pada wajah ibunya yang terlihat pucat. Apakah
ibunya itu kelelahan? Atau karena efek dari terbangun dari tidur karena
menghawatirkan dirinya? Tapi selepas dari itu yang kini ia fikirkan adalah
perasaan yang mengganjal pada dirinya tentang wanita yang kini ada didepannya,
namun ia menepis perasaan itu.
“Jangan dimatiin” lagi-lagi wanita
itu menjawab singkat dengan wajah amat datar. Ia memandang Tania “makanya
jangan terlalu fokus sama tugas, jadi salah dengerkan?” wanita itu tersenyum
tipis. Tania ikut tersenyum.
Tania masih belum memalingkan
wajahnya dari sang Ibu, begitupun Ibunya. Mereka saling menatap satu sama lain.
Tania kembali mengingat yang baru saja terjadi. Ia mengingat jelas ibunya yang
menyuruhnya, ia sangat mengenal suara ibunya.
Ibu Tania melihat jauh ke ruang
tengah yang dimaksud Tania. “Itu ruangannya masih nyala”
Mata Tania mengarah pada ruangan
yang ibunya maksud, ia terbelalak dibuat tak percaya. Padahal ia mematikan
saklar ruangan tengah, dan lampu jelas-jelas mati. Tapi kenapa sekarang hidup.
Tania semakin berkidik, ia menatap ibunya kembali, “mah, Tania tadi udah matiin
lampunya”
Wanita itu memiringkan kepala, ia
keheranan dengan apa yang dikatakan oleh Tania. “Ayo tidur, kamu ngelantur kali.”
Perintahnya.
“Beneran mamah, mamah nyuruh aku
buat matiin lampunya. Jelas itu suara mamah...” Tania teringat sesuatu. Ibunya
tidak pernah msemanggil dia dengan sebutan Nak.
“Mah..,” lanjutnya. Ia bergegas
menarik tangan ibunya untuk pergi keatas “Ayo tidur sekarang..” Ia menarik
lengan ibunya, mereka menaiki satu-persatu anak tangga hingga sampai keruangan atas
tempat kamarnya berada. “mamah temenin Tania tidur ya malam ini” ucap Tania.
Ibunya tersenyum pada Tania, ia
mengangguk kecil tanda setuju.
****
“Kringggg..kringgg... kringggg...”
Telepon rumah berbunyi sangat nyaring. Mengganggu gendang telinga Tania yang
sedang tertidur sampai harus membuka kedua matanya.
“Siapa yang nelpon pagi-pagi gini”
katanya sambil mengucek-ngucek kedua mata dan menyingkirkan selimut. Ia turun
dari ranjang, lalu melangkah keluar kamar menghampiri telepon rumah yang sedari
tadi belum ada yang menjawabnya.
“Kringgg kringgg kringggg..”
Telepon itu terus berteriak.
“Iya sabarrr!” sahut Tania sambil
bergegas menuju telepon yang berdering tersebut.
“Hallo!” Sapanya.
“Iya halo, Sayang..” seseorang
menyapanya ditelepon itu.
“Mamah...”
“Mamah teleponin kamu kenapa gak
aktif sih. Cepet suruh pak Ardi bukain gerbang!” Perintah mamahnya.
“Mamah darimana pagi-pagi begini?”
“Aduh ko malah nanya, kan udah
bilang kemarin. Mamah mau nemenin temen mamah yang suaminya meninggal. Cepet
buka gerbangnya. Adikmu udah ngerengek terus ini dari tadi”
Tania tidak langsung menjawab
mamahnya, ia berdiri terpaku mencerna apa yang baru saja ia dengar. Kepalanya
mengingat kejadian semalam, dan mendengar pernyataan ibunya ditelepon membuat
jantungnya sejenak berhenti. Ia kini ingat bahwa keluarganya memang pergi
kemarin untuk melayat, tapi ia tidak mengetahui kalau mereka juga menginap
disana.
“Halo sayang.. sayang.. “ Teriakan
Ibunya ditelepon.
Tania segera sadar dan memalingkan
fikirannya dulu dari masalah semalam, “Ia mah Tania keluar sekarang” Ia
kemudian menutup telepon dan bergegas lari keluar.
“Pak Ardi buka gerbangnya... Pak..
Pak Ardi!” ia tidak melihat siapapun, ia merasa heran kemana para pembantu dan
penjaga gerbangnya.
Sesampainya digerbang, ia sendiri
yang turun tangan membukakan pintu gerbangnya agar mobil orangtuanya bisa
masuk. Ia lantas membuka pintu gerbang, pintu mobil itu kemudian terbuka.
“Pak Ardi kemana?” Tanya seorang
lelaki yang tak lain adalah ayah dari Tania.
“Gak tau pah, gak ada yang jawab
aku” Tempas Tania.
Mobil melaju melambat memasuki
halaman rumah yang luas itu, kemudian berhenti digarasi yang luasnya 7x6 meter.
Tania masih berdiri mematung, ia memikirkan
tentang hal semalam. Apakah ia bermimpi atau memang itu kenyataan. Jika mimpi,
itu adalah mimpi yang sangat menakutkan. Dan jika itu kenyataan, ini lebih
menakutkan.
“Jadi siapa yang aku ajak tidur
semalam?” tanya tania pada dirinya sendiri.
Lanjut Di Episode Berikutnya.

Komentar