Cerita Harianku



Malam Semesta,

Hari ini cuaca cerah ya, walaupun tadi sempat mendung dan gerimis sebentar. 

Semesta, aku ingin bercerita tentang hari ini.

    Entah harus dimulai dari mana. Aku masih seperti yang dulu, tak banyak perubahan yang terjadi. Begitulah anggapan sebagian orang. Namun, tak sedikit diantara mereka juga mengatakan kalo aku banyak berubah. Aku setuju pada 20% pendapat mereka tentang diriku, 30% pada penilaianku sendiri, dan 50% pada hal baik yang terjadi pada diriku tanpa perlu penilaian dari siapapun. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan disini. Melainkan tentang Diriku dan Kota Jakarta.

    Sekitar kurang lebih 4 bulan lamanya kaki ini menginjak tanah ibukota, cukup untuk seorang 'pengembara' mengenali tanah pijakannya, cukup untuk aku mulai beradaptasi dengan kehidupan yang ada. Bukan hal mudah menjalani hidup disini, juga bukan hal yang teramat sulit. 

    Sulitnya hidup di Ibukota, segala apapun membutuhkan uang. Uang hanya didapat dari kerja. Makan dan minum membutuhkan uang. Sederhananya kalo ingin makan ya harus kerja biar bisa dapet uang untuk beli makanan. Gak ada yang gratis disini, tempat tinggalpun bayar.    

    Segala hal dan sesuatu apapun mesti ada timbal baliknya. Ya, tentu. itu berlaku bukan hanya di ibukota, tapi diseluruh sudut dunia, kita harus membayar apa yang kita inginkan, kita harus berkorban pada setiap hal yang ingin dimiliki. Ingin tidur juga bayar, tidur nyenyak dengan sewa kost/kontrakan, ingin lebih mewah sewa apartemen atau hotel. Kalo ingin gratis harus punya 'orang dalam' seperti sanak saudara, teman. Kalo gak punya ya masih bisa gratis, caranya tidur diemperan pertokoan, di 'kolong jembatan', atau di setiap sudut jalanan ibukota. Tinggal seberapa mampukah kita dan seberapa besar kerja keras, kesabaran yang dimiliki. 

    Aku pribadi lebih baik tidur menyewa tempat saja, di kost atau kontrakan. Lebih aman dan murah. Dari sinilah aku kembali berfikir logis dan memperhitungkan setiap hal. Selain itu yang diperlukan untuk bisa bertahan disini adalah mental. Tanpanya, kerasnya kenyataan hanya akan membawa banyak masalah. Masalah dari individualnya sendiri maupun lingkungan. Aku selama ini dan bahkan sampai detik ini merasa menjadi manusia lemah. Kenapa? Setiap hari ditimpa masalah setiap itu pula rapuh, mengeluh, terkadang menangis. Tapi setidaknya aku ucapkan terimaksih pada diriku yang masih bisa berjuang hingga saat ini. I Appreciate to my self.

    Tidak juga teramat sulit tinggal di ibukota. Apapun bisa didapatkan disini, segalanya sudah tersedia. Asal gak malas mencari atau mageran. Satu hal lagi, ini penting. Sosialisasi. Jadilah makhluk sosial yang baik. Sewaktu masih di kampung aku pribadi pernah merasa takut untuk merantau ke Jakarta, tapi karena terdesak keadaan dan hasrat ingin 'merubah rencana hidup' akhirnya kuputuskan berangkat dengan bekal seadanya.    

    Minggu pertama terasa sulit dengan keadaan, minggu kedua aku mulai bersosialisasi dengan masyarakat setempat, minggu ketiga dan seterusnya menjadi lebih terbiasa. Hingga berbulan-bulan lamanya mulai biasa menjalani aktivitas sehari-hari. 

    Menjadi lebih terbiasa pada akhirnya membuat kita bisa memilih hal lain yang memiliki nilai lebih, artinya setelah bergelut dalam adaptasi, perlahan kita bisa melihat berbagai macam peluang baru muncul. Semakin lama kita tinggal lalu beradaptasi, semakin banyak informasi dan ilmu yang pastinya akan didapat.    

    Aku belajar banyak hal dari langit ibukota ini, terutama tentang mengenal diri sendiri juga manis pahitnya kehidupan. Dari perjalanan ini, sampai dititik ini aku mengerti bahwa kegagalanku dimasa lalu adalah masa laluku, sejarah akan terus tercipta dari hari ini. Aku belajar bagaimana menciptakan duniaku yang baru dengan segala lika likunya, dan aku percaya History is the spear of the future.

    Boleh kukatakan, aku senang tinggal disini, aku lebih merasa hidup. Segala langkah yang kubuat kulakukan atas dasar diriku sendiri, konsekuensi yang kudapat kuatasi sendiri. Bisa dibilang hidup seperti ini yang aku mau, Freedom is my life. Perlahan tapi pasti akan kupastikan jalan ini tak lagi salah. Langit ibukota menjadi bukti perjuangan yang keras dari orang-orang seperti aku dan mereka. Waktu tak lagi menjadi musuh, melainkan time is a friend of the my struggle. Lebih baik daripada tidak sama sekali.


Jakarta, 13 Juni 2021


Kebon Melati, Jakpus. 

Komentar